info@pm.unida.ac.id
info@pm.unida.ac.id

Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu

Ilustrasi Berwudhu

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB UNIDA GONTOR

Dalam perkara menyentuh perempuan, apakah membatalkan wudhu atau tidak? terdapat banyak pendapat dari para kalangan Ulama, yaitu Ulama 4 Madzhab dalam Perkara ini. Berikut adalah penjelasan singkat tentang pandangan ulama 4 Madzhab tentang perkara ini:

Dalam Madzhab Imam Syafi’i, menyentuh perempuan yang bukan mahromnya (wanita yang boleh di nikahi) membatalkan wudhu, yaitu dengan lima syarat: laki dan perempuan, sudah sama mencapai batas dewasa, tidak ada pembatas-nya walaupun tipis dan lawan jenis.

Dalam pandangan Imam Malik, tidak membatalkan kecuali apabila dibarengi dengan syahwat. Dengan berlandaskan pada hadist ‘Aisyah, dimana Rasulullah saw pernah mencium kening ‘Aisyah r.a, sedangkan beliau dalam keadaan berwudhu. Sebagaiman pada hadist berikut:

عن حبيب ابن أبي ثابت عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قبل بعض نسائه ثم خرج إلى الصلاة ولم يتوضأ

Dari Hubaib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah RA. Sesungguhnya Nabi SAW pernah mencium istrinya kemudian keluar untuk shalat dan tidak berwudhu lagi. (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud & Al-Baihaqi).

Selain dari pada hadist di atas, Imam Maliki juga berlandaskan pada hadsit yang artinya adalah sebagai berikut:

“Tidaklah wajib berwudhu karena mencium istri atau menyentuhnya baik dengan syahwat atau tidak misalnya. Ini adalah pendapat Sayyidina Ali Ra dan Ibnu Abbas Ra. Menurut Imam Syafi’i, wajib wudhu. Ini adalah pendapat Sayyidina Umar Ra dan Ibnu Mas’ud. Persoalan ini dasarnya adalah persoalan yang diperselisihkan pada masa awal sehingga dikatakan sebaiknya bagi orang yang menjadi imam bagi orang lain untuk berhati-hati dalam masalah ini. Sedang menurut Imam Malik, wajib wudhu jika diiringi syahwat, lain halnya jika tanpa syahwat,”

Dalam hal ini, Mazhab Imam Hanafi r.a berpendapat bahwa sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu. Dalam masalah ini, Mazhab Hanafi menggunakan dalil shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan sanad yang shahih:


وعن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم :كان يصلي وهي معترضة بينه وبين القبلة فإذا أراد أن يسجد غمز رجلها, فقبضتها. رواه البخاري ومسلم.

Dari Aisyah RA, sesungguhnya Nabi SAW melakukan salat. Sementara Aisyah tidur di antara beliau dan arah kiblat, apabila Nabi SAW hendak sujud beliau geser kaki Aisyah. (HR.Bukhari dan Muslim).

Adapun Pendapat Madzhab Imam Hambali r.a, beliau berpendapat bahwa bahwa sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan jika disertai dengan sahwat maka membatalkan wudhu, namun jika tidak disertai sahwat maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat Madzhab Hanbali ini sama seperti pendapat Mazhab Maliki.

Dalam masalah ini, Mazhab Hanbali menggunakan dalil shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan sanad yang shahih:


وعن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم :كان يصلي وهي معترضة بينه وبين القبلة فإذا أراد أن يسجد غمز رجلها, فقبضتها. رواه البخاري ومسلم.


Dari Aisyah RA, sesungguhnya Nabi SAW melakukan salat. Sementara Aisyah tidur di antara beliau dan arah kiblat, apabila Nabi SAW hendak sujud beliau geser kaki Aisyah. (HR.Bukhari dan Muslim)

Juga menggunakan dalil yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud & Al-Baihaqi:


عن حبيب ابن أبي ثابت عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قبل بعض نسائه ثم خرج إلى الصلاة ولم يتوضأ. رواه الترمذي وابن ماجه وداود والبيهقي.

Dari Hubaib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah RA. Sesungguhnya Nabi SAW pernah mencium istrinya kemudian keluar untuk salat dan tidak berwudhu lagi. (HR.at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Al-Baihaqi).

Dari beberpa pendapat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat berbagai macam pendapat tentang perkara ini, dan setiap pendapat memiliki landasan masing-masing dalam melaksanakannya, untuk penerapannya dalam kehidupan, para ulama memberikan kebebasan untuk memilih. Semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Sumber: Dok PM
Edit By: Admin

Artikel Terkait:
Doa Setelah Wudhu Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

3 Responses

Leave a Reply

Sekilas PRODI Perbandingan Madzhab

Program Studi Perbandingan Madzhab UNIDA Gontor lahir pada tahun 1990. Program Studi ini bertujuan untuk mencetak sarjana muslim yang piawai dalam ilmu hukum islam dan hukum positif.

Artikel Terbaru

Hari Terakhir Webinar International 2020 dan Penutupan
24 November 2020By
Hari Pertama Webinar International Berjalan Sukses
23 November 2020By
المقالات للمؤتمر الدولي 2020
22 November 2020By

Kalender Kegiatan

07Jan

Dr. Zakir Naik UNIDA

7:00 am - 11:30 pmKingster Grand Hall
01Jan

Kuliah Umum Bersama Gubernur NTB

10:00 am - 4:30 pmKingster Grand Hall
17Dec

KEMENRISTEKDIKTI dan LPDP

1:00 pm - 5:00 pmKingster Grand Hall